Minggu, 24 Juli 2016

Skripsi Kultur Jaringan

I.      PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
            Jagung manis (Zea mays saccharata sturt L.) merupakan salah satu makanan yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia, sehingga tidak heran kalau permintaan pasar terhadap jagung cukup tinggi. Hal ini merupakan peluang yang baik bagi para petani untuk dapat lebih meningkatkan produksi jagung (Danarti dan Najiarti, 1999).
            Jagung manis (sweet corn) adalah varietas yang secara genetis tinggi aakan gula dan rendah akan zat tepung dan sering dimakan pada saat kondisinya belum matang. Zat tepung atau starch dari tanaman jagung juga dapat dibentuk menjadi plastik, bahan perekat, dan berbagai macam produk kimia lainnya. Jagung juga bermanfaat bagi kesehatan meliputi pengendalian diabetes, pencegahan penyakit jantung, menurunkan hipertensi dan pencegahan cacat tabung syaraf-saat lahir. Jagung atau tepung jagung merupakan salah satu dari sereal paling populer di dunia dan membentuk makanan pokok di banyak negara termasuk Amerika Serikat, Afrika dll. Tidak hanya menyediakan kalori yang diperlukan untuk metabolisme sehari-hari, tetapi merupakan sumber yang kaya vitamin A, B, E dan banyak mineral. kandungan serat tinggi dengan memastikan bahwa berperan dalam pencegahan penyakit pencernaan seperti sembelit dan wasir serta kanker kolorektal (Malti et al., 2011).
Prospek usaha tani tanaman masih cukup cerah bila dikelola secara intensif dan komersial berpola agribisnis. Khusus di Indonesia masih rendahnya produksi jagung nasional antara lain disebabkan belum meluasnya penggunaan varietas unggul, minimnya permodalan petani serta pemakaian pupuk dan bercocok tanam yang belum memenuhi syarat yang dianjurkan pemerintah (Suprapto, 2002).
            Berdasarkan paparan diatas maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Zat Pengatut Tumbuh  Naftalena Acetic Acid (NAA) dan  Benziladenin (BA) Terhadap Pertumbuhan Embrio Jagung Manis (Zea may ssaccharata Sturt L.) Secara Kultur Jaringan.
 B. Hipotesis
Ada pengaruh yang nyata pada pertumbuhan embrio jagung manis akibat perbedaan konsentarasi zat pengatur tumbuh  NAA dan BA.
C.   Tujuan Penelitian
            Untuk mengetahui konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh IAA dan BA yang tepat terhadap pertumbuhan embrio jagung secara in vitro. Serta bertujuan untuk mengetahuai adanya interaksi antara zat pengatur tumbuh NAA dan BA terhadap pertumbuhan embrio jagung manis dalam media MS secara kultur jaringan.
D.   Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat untuk mendapatkan data dalam penyusunan skripsi yang merupakan salah satu syarat dalam menempuh ujian meja hijau di Fakultas Pertanian Universitas Asahan serta diharapkan dapat bermanfaat sebagai literatur dan bacaan bagi Mahasiswa Fakultas pertanian Universitas Asahan dalam memberikan informasi tentang konsentrasi terbaik dalam penggunaan zat pengatur tumbuh NAA dan BA terhadap pertumbuhan embrio jagung manis secara kultur jaringan.       
            
                                                                                                                          II.      TINJAUAN PUSTAKA
A.   Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Jagung Manis
          Menurut Purwono dan Hartono (2005), tanaman jagung manis dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Kelas               :  Monocotyledoneae
Ordo                : Graminae
Family             : Graminaceae
Genus              :  Zea
Spesies            :  Zea mays saccharata sturt L
1.      Biji
Biji tanaman jagung dikenal sebagai kernel terdiri dari 3 bagian utama, yaitu dinding sel, endosperma, dan embrio. Bagian biji ini merupakan bagian yang terpenting dari hasil pemaneman (Belfield dan Brown, 2008).
2.      Daun
            Daun terbentuk dari pelepah dan daun (leaf blade dan sheath). Daun muncul dari ruas-ruas batang. Pelepah daun muncul sejajar dengan batang. Pelepah daun bewarna kecoklatan yang menutupi hampir semua batang jagung (Belfield dan Brown, 2008).
3.      Batang
            Batang tanaman jagung beruas-ruas dengan jumlah 10 ­- 40 ruas. Tanaman jagung umumnya tidak bercabang, tinggi tanaman tergantung varietas dan tempat penanaman, umumnya berkisar 60 cm – 300 cm (Tjitrosoepomo, 1993).
4.      Akar
            Jagung termasuk tanaman berakar serabut yang terdiri dari beberapa akar, yaitu akar primer, akar lateral, dan akar udara. Sistem perakaran pada tanaman jagung tersebar kesetiap jurusan, dan perkembangan akar tersebut tergantung  dari kesuburan tanah dan keadaan air tanah (Danarti dan Najiyati, 1999).
5.      Bunga
            Jagung manis termasuk tanaman yang berumah satu (monoceus) yang terdiri dari bunga jantan dan betina. Setiap bunga mempunyai tangkai putik, dan kumpulan dari tangkai putik ini sering disebut sebagai rambut jagung (Purwono dan Hartono, 2005).
 B. Syarat Tumbuh
1.      Iklim
Tanaman jagung dapat tumbuh di dataran rendah sampai dataran tinggi 1.300 m di atas permukaan laut (dpl), kisaran suhu antara 13ºC sampai 38ºC dan mendapat sinar matahari penuh.  Tanaman jagung tumbuh dan berproduksi optimum di dataran rendah Indonesia sampai ketinggian 1800 m di atas permukaan laut (dpl), dan memerlukan curah hujan ideal sekitar 85 mm per tahun sampai 200 mm per tahun selama masa pertumbuhan (Purwono dan Hartono 2005).
2.     Tanah
Tanah sebagai tempat tumbuh tanaman jagung harus mempunyai kandungan hara yang cukup.  Tersedianya zat makanan di dalam tanah sangat menunjang proses pertumbuhan tanaman hingga menghasilkan. Tanaman jagung tidak membutuhkan persyaratan yang khusus karena tanaman ini tumbuh hampir pada semua jenis tanah asalkan tanah tersebut subur, gembur, kaya akan bahan organik dan drainase maupun aerase baik.  Kemasaman tanah (pH) yang diperlukan untuk pertumbuhan optimal tanaman jagung antara pH 5,5 sampai pH 6,5 tetapi yang paling baik adalah pH 6,8 (Purwono dan Hartono 2005).
Menurut Purwono dan Hartono (2005), jagung manis mempunyai nilai nutrisi yang lebih baik dibandingkan dengan jagung biasa.  Kandungan zat gizi jagung manis tiap 100 gram berat bahan yang dapat dimakan tertera pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Nilai Zat Gizi Jagung Manis Tiap 100 g yang Dapat Dimakan.
No
Zat gizi
Kandungan zat gizi
1
Energi
96,0         kalori
2
Protein
3,5         g
3
Lemak
1,0         g
4
Karbohidrat
22,8         g
5
Kalium
3,0         mg
6
Fosfor
111,0         mg
7
Besi
0,7         mg
8
Vitamin A
400,0          SI
9
Vitamin B
0,15         mg
10
Vitamin C
12,0         mg
11
Air
72,7          g






 C. Kultur Jaringan
          Kuktur jaringan adalah istilah umum yang ditujukan pada budidaya secara in vitro terhadap berbagai bagian tanaman yang meliputi batang, daun, akar, bunga, kalus, sel, protoplas, dan embrio. Bagian – bagian tersebut yang diistilahkan sebagai eksplan, diisolasi dari kondisi in vivo dan dikultur pada medium buatan yang steril sehingga dapat beregenerasi dan berdiferensiasi menjadi tanaman lengkap (Street, 1973)
            Tumbuhan memiliki sifat totipotency, artinya tidak hanya dari sel telur atau sperma (yang merupakan sel perkembangbiakan), tapi dari sel-sel akar, daun, batang, dan sel tubuh tumbuhan lainnya dapat ditumbuhkan kembali, atau dibiakkan dengan mudah, contoh yang paling ekstrim adalah dengan hanya memakai sebuah sel yang terpisah sekalipun, badan tumbuhan keseluruhannya dapat ditumbuhkan kembali. Karena adanya sifat inilah, dengan teknik-teknik yang telah lama dikenal seperti stek, okulasi, cangkok, serta dengan metode baru seperti kultur jaringan tanpa bakteri, perbanyakan klon tumbuhan dapat dilakukan tanpa batas. Sementara itu, dengan kemajuan teknik rekayasa genetika dan rekayasa hayati lainnya, teknik kultur jaringan menjadi menjadi salah satu teknik dasar yang diterapkan di bioteknologi tumbuhan, mulai dari riset dasar sampai aplikasi (Sano, 2001).
Menurut Yusnita (2003) dibanding dengan perbanyakan tanaman secara konvensional, perbanyakan secara kultur jaringan mempunyai beberapa kelebihan sebagai berikut : untuk memperbanyak tanaman tertentu yang sulit atau sangat lambat diperbanyak secara konvensional, menghasilkan jumlah bibit tanaman yang banyak dalam waktu relatif singkat sehingga lebih ekonomis, tidak memerlukan tempat yang luas, dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa tergantung musim, bibit yang dihasilkan lebih sehat.
            Akan tetapi tidak semua sel pada tumbuhan mampu melaksanakan pembesaraan dan pembelahan. Kegiatan pembesaran dan pembelahan sel dilaksanakan pada jaringan tertentu yang terbatas pada jaringan meristem seperti pucuk, ujung akar atau buku-buku pada tumbuhan monokotil (Sastramihardja dan Siregar, 1994).
            Kultur embrio merupakan salah satu cara dalam perbanayakan secara in vitro dengan menggunakan embrio yang diperoleh dari biji buah muda (posisi biji pada ⅓ bagian tengah buah) (Zulkarnain, 2009).
Kultur embrio adalah memisahkan embrio yang belum dewasa dan menumbuhkannya secara kultur jaringan untuk mendapatkan tanaman yang viabel, tujuan dari kultur embrio adalah : memperpendek siklus breeding, menguji kecepatan viabilitas biji, memperbanyak tanaman langka, dan memperoleh hibrid yang langka (Daisy dan Ari, 1994).
D. Eksplan
Eksplan adalah bagian kecil jaringan atau organ yang dipisahkan dari tanaman induk dan kemudian dikulturkan. Keberhasilan pengkulturan eksplan tergantung pada faktor yang meliputi genotif eksplan, umur fisiologis juga sumber jaringan (Hughes, 1982).
            Dalam pemilihan bagian tanaman, perlu juga dipertimbangkan tujuan dari kulturnya. Bagian–bagian tertentu akan memberikan variasi dalam jumlah kromosom maupun variasi dalam beberapa gen. Endosperm hanya digunakan untuk mendapatkan kultur yang triploid. Selain bagian tanaman, genotif atau varietas yang digunakan juga ikut menentukan keberhasilan regenerasi (Gunawan, 1995).
E. Media Kultur Jaringan
          Media yang digunakan secara luas adalah media MS yang dikembangkan pada tahun 1962. Dari berbagai komposisi dasar ini kadang-kadang dibuat modifikasi, misalnya hanya menggunakan ½ dari konsentrasi dari garam-garam makro yang digunakan (1/2 MS) atau menggunakan komposisi garam makro berdasarkan MS tetapi mikro dan vitamin berdasarkan komposisi heller. Zat pengatur tumbuh yang akan digunakan disesuaikan untuk inisiasi kultur (Gunawan, 1995).
Medium dapat digunakan untuk menghasilkan kalus yang selanjutnya diinduksi membentuk tanaman yang lengkap (planlet), sedangkan medium cair biasanya digunakan untuk kultur sel. Medium yang digunakan mengandung lima komponen utama yaitu senyawa organik, sumber karbon, vitamin, zat pengatur tumbuh dan suplemen organik (Yuwono, 2008).
F.  Lingkungan In Vitro
Lingkungan tumbuh yang dapat mempengaruhi regenerasi tanaman meliputi temperature, penyinaran (panjang penyinaran), intensitas penyinaran dan kualitas sinar serta ukuran wadah kultur. Cahaya berperan didalam perkembangan dan pertumbuhan tanaman yang disebut fotomorfogenesis yang artinya cahaya dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bagian-bagian tanaman, misalnya tunas, pucuk dan lain-lain. Cahaya meliputi kualitas, intensitas cahaya dan lama penyinaran (Gunawan, 1995).  
            Temperatur didalam ruang kultur jaringan diharapkan dapat diatur. Banyak laporan mengatakan bahwa temperatur yang baik untuk pertumbuhan tanaman dalam in vitro antara 25-28oC yang merupakan suhu ruangan normal. Suhu ruangan untuk negara tropis dapat diturunkan dengan pemasangan AC. Pemakaian AC mutlak karena ruang kultur merupakan ruangan tertutup yang sedikit sekali mempunyai aliran udara bebas (Gunawan, 1987).
G.  Zat Pengatur Tumbuh
Zat pengatur tumbuh auksin dan sitokinin memegang peranan penting. Auksin dan sitokinin tidak hanya menentukan tumbuhnya jaringan yang dikulturkan, tetapi bagaimana jaringan itu tumbuh. Penggunaan taraf sitokinin relatif tinggi terhadap auksin akan merangsang inisiasi tunas, sedangkan keadaan sebaliknya akan merangsang inisiasi akar. Auksin dan kadang-kadang sitokinin dibutuhkan untuk merangsang pembelahan sel dan pembentukan kalus. Untuk merangsang terbentuknya embrio somatik, umumnya digunakan auksin kuat, seperti 2,4 D atau NAA (Yusnita, 2003).
Auksin adalah sekelompok senyawa yang fungsinya merangsang pemanjangan sel-sel pucuk yang spektrum aktivitasnya menyerupai IAA (indole acetic acid) Pierik (1997) menyatakan bahwa pada umumnya auksin meningkatkan pemanjangan sel, pembelahan sel, dan pembentukan akar adventif. Auksin berpengaruh pula untuk menghambat pembentukan tunas adventif dan tunas aksilar, namun kehadirannya dalam medium kultur dibutuhkan untuk meningkatkan embriogenesis somatik pada kultur suspensi sel. Konsentrasi auksin yang rendah akan meningkatkan pembentukan akar adventif, sedangkan auksin konsentrasi tinggi akan merangsang pembentukan kalus dan menekan morfogenesis (Smith, 1992).
Sitokinin adalah senyawa yang dapat meningkatkan pembelahan sel pada jaringan tanaman serta mengatur pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sama halnya dengan kinetin (6-furfurylaminopurine). Peran auksin dan sitokinin sangat nyata dalam pengaturan pembelahan sel, perpanjangan sel, diferensiasi sel, dan pembentukan organ (Zulkarnain, 2009).
Pemberian sitokinin ke dalam medium kultur jaringan penting untuk menginduksi perkembangan dan pertumbuhan eksplan. Senyawa tersebut meningkatkan pembelahan sel, proliferasi pucuk, dan morfogenesis pucuk (Smith, 1992). Bahkan menurut George dan Sherrington (1984), apabila ketersediaan sitokinin di dalam medium kultur sangat terbatas maka pembelahan sel pada jaringan yang dikulkturkan akan terhambat. Akan tetapi, apabila jaringan tersebut disubkulturkan pada medium dengan kandungan sitokinin yang memedai maka pembelahan sel akan berlangsung scara sinkron.




Selain meningkatkan pembelahan sel dan inisiasi pucuk, sitokinin terlibat pula di dalam kontrol perkecambahan biji, memengaruhi absisi daun dan transpor auksin, serta menunda penuaan (Kyte, 1983). Sitokinin biasanya tidak digunakan pada tahap pengakaran pada mikropropagasi karena aktifitasnya dapat menghambat pembentukan akar, menghalangi pertumbuhan akar, dan menghambat pengaruh auksin terhadap inisiasi akar, pada kultur jaringan sejumlah spesies tertentu (George dan Sherrington, 1984).

     

                         







                                                                                     III.      BAHAN DAN METODE PENELITIAN
A.   Tempat dan Waktu
            Penelitian dilaksanakan di Laboratorium kultur jaringan Fakultas Pertanian Universitas Asahan, yang dimulai dari bulan Juli 2012 hingga Oktober 2012.
B.   Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih jagung manis, larutan stok media MS, ZPT (IAA dan BA), agar-agar, glukosa, NaOH 1 M, HCl, dan aquades, alkohol 70 %, 80%, dan 95%.
            Alat-alat yang digunakan adalah autoklaf, Laminar Air Flow (LAF), botol kultur, erlenmeyer, pipet skala, gelas ukur, petridis, scalpel, gunting, bunsen, timbangan analitik, stirrer magnetik, batang pengaduk, lemari es, pH meter/kertas lakmus, aluminium foil, kertas millimeter, pinset, oven, tisu dan alat-alat lainnya yang mendukung  penelitian ini.
C.   Metode Penelitian
            Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Fakltorial dengan dua faktor yang diteliti yaitu :
Faktor I : Tingkat konsentrasi pemberian NAA yang terdiri dari satu taraf, yaitu :
            A1 = Perlakuan dengan penambahan NAA 0,1 ppm
Faktor II : Tingkat konsentrasi pemberian BA yang terdiri dari tiga taraf, yaitu :
            B1 = Perlakuan dengan penambahan BA 0,1 ppm
            B2 = Perlakuan dengan penambahan BA 0,5 ppm
            B3 = Perlakuan dengan penambahan BA 1 ppm
Dengan demikian diperoleh 3 kombinasi perlakuan dan masing-masing diulang sebanyak empat kali.          
            Hasil penelitian kualitatif dianalisis dengan meliputi data visual yang dianalisis dengan metode deskriptif. Sedangkan data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam uji F taraf 5 %.
Yijk = µ + αi  + βj + (αβ)ij + εijk
Dimana  :
Yijk            = Hasil pengamatan pada konsentrasi NAA taraf ke-i dan   konsentrasi  BA pada taraf ke-j
µ             =  Nilai pengamatan rata-rata
αi                =  Efek dari konsentrasi NAA pada taraf ke-i
βj            =       Efek dari konsentrasi BA pada taraf ke-j
(αβ)ij       =  Interaksi dari pemberian konsentrasi NAA pada taraf ke-i dengan   konsentrasi BA pada taraf ke-j
εijk              =  Pengaruh error dari pemberian konsentrasi NAA pada taraf ke-i,   konsentrasi BApada taraf ke-j pada ulangan ke-k
Untuk melihat persamaan regresi yang di peroleh, di tentukan dari nilai komponen dengan derajat bebas (db) tunggal yang berbeda nyata pada sidik ragam.


D.   Pelaksanaan Penelitian
1.      Sterilisasi Alat
Tujuan dari sterilisasi adalah untuk membersihkan seluruh alat-alat yang akan digunakan dalam penelitian kultur jaringan sehingga terbebas dari hal-hal yang dapat menimbulkan kontaminasi. Alat-alat tersebut dicuci dengan deterjen, kemudian dibilas dengan air mengalir, setelah itu dikeringkan. Kemudian alat seperti skapel, pipa skala, pinset dan cawan petri dibungkus dengan kertas, sedang untuk erlenmeyer dan gelas ukur permukaannya ditutup dengan aluminium foil. Setelah itu, botol kultur dan alat-alat dimasukkan ke dalam autoklaf pada tekanan 17,5 psi, dengan suhu 1210C  selama 60 menit. Kemudian alat-alat yang dibungkus kertas dimasukkan ke dalam oven.
2.      Pembuatan Larutan Stok
Pembuatan larutan stok bertujuan untuk memudahkan pekerjaan dalam membuat media . Larutan stok dibuat sesuai dengan komposisi media MS, oleh karena unsur hara mikronutrien diperlukan jumlahnya sangat sedikit, maka stok mikronutrien harus dibuat dalam suatu wadah sebagai stok campuran. Dalam penelitian ini akan dibuat 100 kali konsentrasi. Tujuannya adalah agar dalam penimbangan komponen bahan kimia tidak mengalami kesulitan sebab bahan kimia tersebut sangat kecil. Langkah-langkah pembuatan larutan stok sebagai berikut :
a.   Menimbang bahan-bahan kimia mikronutrien dan makronutrien dengan timbangan analitik masing-masing sebanyak :
         Mn SO­4 H2 O                             2.230,0   mg
         ZnSO4.4H2O                                 860,0   mg         
         H3BO3                                                          620,0  mg
         KI                                                    83,0   mg
         NaM042H­­2O                                 25,0   mg
         CuSO4.5H2O                                    2,5    mg
         C0Cl2.6H2O                                       2,5   mg
Bahan kimia yang lainya lihat lampiran 1.
b.      Bahan-bahan tersebut dimasukkan satu per satu kedalam gelas piala 500 ml yang berisi aquades steril sebanyak 300 ml. Setiap kali memasukkan bahan kimia harus segera dilarutkan
c.       Larutan yang sudah jadi kemudian ditambah aquades steril sampai volume menjadi 500 ml.
d.      Botol-botol tersebut ditutup dengan rapat, dan diberi label : Mikronutrien/makronutrien 100 kali, 5 ml/l.
e.       Untuk membuat 1 liter medium memerlukan 5 ml stok, dan untuk membuat 500 ml medium memerlukan 2,5 ml stok.
3.      Pembuatan Stok Zat Pengatur Tumbuh
Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) hanya diperlukan dalam jumlah sedikit sekali. Untuk membuat larutan stok NAA sebanyak 100 ml dengan dosis 1000  ppm (1 mg/ml langkah-langkahnya sebagai berikut :
a.       Bahan sebanyak 100 mg ditimbang dan setiap bahan dituang kedalam gelas piala 100 ml yang berisi aquades steril 70 ml.
b.      Sambil diaduk, diteteskan sedikit larutan KOH 1 N dengan hati-hati sampai larutan jernih.
c.       Larutan dipindahkan dalam erlenmeyer 100 ml dan ditambah dengan aquades sampai larutan menjadi 100 ml.
d.      Pindahkan kedalam wadah larutan stok, tutup rapat dan beri label kemudian simpan dilemari es.
e.       Untuk membuat larutan stok BA langkah-langkah pembuatannya sama dengan pembuatan stok NAA diatas.
f.       Jadi jika larutan stok yang tersedia tadi dalam dosis 1000 ppm, dan ingin membuat medium dengan dosis 1 ppm sebanyak 1 liter maka larutan stok yang akan kita ambil adalah :
V1. M1  =   V2. M2
      V1          =    Volume larutan yang dicari (x)
      M1          =    Dosis  larutan stok yang tersedia
      V2          =    Volume medium yang akan dibuat
      M2          =    Dosis medium yang akan dibuat
      Maka penghitungannya sebagai berikut :
      V1. M1   =    V2 . M2
      X . 1000 =    1000 . 1
      1000 X   =    1000
      X            =    1000 : 1000
      X            =    1 ml/liter
Jadi untuk membuat medium dengan dosis 1 ppm sebanyak 1 liter maka larutan stok yang akan kita ambil adalah 1 ml/liter.
4.      Pembuatan Media
Tahapan pembuatan medium MS adalah sebagai berikut :
a.   Menyiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk proses membuatan medium MS.
b.   Bahan kimia baik makro, mikronutrien, agar, sukrosa dan stok ZPT disiapkan.
c.   Siapkan gelas piala 1000 ml isi dengan aquades steril 200 ml, masukkan larutan stok makronutrien, setiap memasukkan larutan bahan kimia gelas digoyang pelan-pelan agar larutan tercampur rata. Masukkan stok besi, masukkan larutan stok mikronutrien, masukkan stok vitamin, masukkan mio-inositol, tambahkan ZPT NAA dan BA sesuai konsentrasi perlakuan masukkan sukrosa 30 g/l, masukkan serbuk agar-agar 7g/l. Letakkan gelas pada stirrer magnetik agar larutan teraduk merata tambahkan aquades hingga volume larutan mencapai 500 ml sambil diukur pH larutan 5,7 - 5,8, bila pH kurang dari 5,8 tambah dengan NaOH dan bila lebih dari 5,8 tambah HCl. Panaskan masing-masing larutan sampai mendidih, lalu tuangkan kedalam botol kultur kurang lebih 30 ml/botol.
5.      Sterilisasi Media
Kontaminasi mikroba berada pada media sejak awal persiapan. Untuk itu harus menggunakan alat-alat berbahan kaca dan alat-alat bantu yang benar-benar bersih dan steril. Sterilisasi media dilakukan dalam autoklaf pada tekanan pada tekanan 17,5 psi dengan suhu 1210C selama 30 menit. Setelah lama pensterilan media tercapai, dilakukan penanganan pendinginan secara hati-hati, yaitu tekanan pada autoklaf dikurangi perlahan-lahan hingga tekanan didalam autoklaf memcapai nol. Setelah dingin media diletakkan pada rak simpan media, hingga media siap dipakai.
6.      Sterilisasi Eksplan dan Penanaman Eksplan
Permukaan eksplan (bahan tanam) umumnya membawa sejumlah mikrobia kontaminan, maka sterilisasi permukaan eksplan sangat diperlukan sebelum ditanam pada media. Prosedur sterilisasi eksplan :
  1. Biji jagung dicuci dengan detergen selama 30 menit sambil terus digojok kemudian dibilas dengan air mengalir.
  2. Pengerjaan selanjutnya dilakukan di Laminar Air Flow (LAF) yang telah dibersihkan/disterilkan dengan alkohol 96%.
  3. Eksplan yang sudah bersih direndam dalam larutan fungisida Benlate 2 g/l + Dithane M-45 2 g/l + Tween-20 sebanyak 2-3 tetes, kemudian digojok selama 30 menit. Selanjutnya dibilas dengan aquades steril minimal sebanyak 3 kali.
  4. Eksplan direndam dalam larutan Clorox 20% selama 10 menit sambil digojok kemudian dibilas dengan aquades steril minimal sebanyak 3 kali.
  5. Eksplan direndam dalam larutan Betadine 5% selama 10 menit sambil digojok kemudian dibilas dengan aquades steril minimal sebanyak 3 kali.
  6. Selanjutnya, biji-biji tersebut dipindahkan kedalam petridish dan dibelah dengan hati-hati menggunakan pisau skalpel dan pinset steril, setelah itu embrionya diisolasi. Embrio yang sudah diambil selanjutnya ditanam pada medium yang telah disiapkan.
  7. Selanjutnya medium yang telah berisi eksplan dipindahkan keruangan inkubasi dan diletakkan pada rak kultur.
7.    Peubah yang diamati
a. Persentase Eksplan yang Tumbuh (%)
Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian (20 HST)  dengan cara  menghitung jumlah eksplan yang hidup setiap perlakuan dengan rumus :
Persentase eksplan hidup =   × 100 %
b. Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun diamati dengan cara menghitung total daun dalam setiap eksplan yang tumbuh, dilakan pada akhir penelitian (20 HST).
c.  Jumlah Akar (buah)
Jumlah akar diamati dengan cara  menghitung total akar dalam setiap eksplan yang tumbuh, dilakukan pada akhir penelitian (20 HST).


d.  Panjang Akar (cm)
Panjang akar di ukur pada akhir penelitian (20 HST) dengan cara mengukur panjang akar masing-masing eksplan yang tumbuh dengan menggunakan kertas millimeter mulai dari pangkal munculnya daun  sampai ujung akar terpanjang.
















                                                     IV.      HASIL DAN PEMBAHASAN
A.  Hasil dan Pembahasan Penelitian
      1.  Persentase Eksplan yang Tumbuh
Respon eksplan embrio jagung manis (Zea mays saccharata sturt L.) secara kultur jaringan akibat pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA selama 20 hari pengkulturan terhadap persentase eksplan tumbuh dapat dilihat pada tabel 1.
Pada Tabel 2 terlihat bahwa persentase tumbuh eksplan embrio jagung manis semua perlakuan 100% tumbuh, hal tersebut disebabkan eksplan yang digunakan adalah embrio dari biji jagung yang memiliki titik tumbuh yang aktif membelah dan memanjang untuk membentuk daun, akar dan batang.
Gambar 1. Semua Eksplan Yang Dikulturkan Tumbuh.

Tabel 2. Hasil Persentase Tumbuh Embrio Jagung Manis pada Berbagai Konsentrasi  BA dan NAA Secara Kultur Jaringan.

Perlakuan
Persentase Tumbuh (%)
A1B1 (0,1 ppm NAA + 0,1 ppm BA)
A1B2 (0,1 ppm NAA + 0,5 ppm BA)
   A1B3 (0,1 ppm NAA + 1 ppm BA)
100
100
100
Tabel 2 menunjukkan bahwa konsentrasi NAA dan BA yang diberikan tidak bersifat menghambat pertumbuhan eksplan embrio jagung manis, justru mempercepat pertumbuhan terlihat pada setiap perlakuan menunjukkan ekplan dapat tumbuh.
Pada Tabel 2 di atas dapat dilihat pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA dari berbagai konsentrasi yang ditambahkan pada media menunjukkan pengaruh tidak berbeda nyata pada semua perlakuan terhadap persentase tumbuh eksplan embrio jagung manis.
Analisis pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA dari berbagai konsentrasi yang diberikan terhadap persentase eksplan tumbuh di peroleh grapik seperti terlihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 2. Rata-rata Persentase Eksplan Tumbuh pada Berbagai Konsentrasi ZPT NAA dan BA.

       2.  Jumlah Daun
Daun merupakan pusat terjadinya fotosintesis yang merupakan sumber bahan makanan bagi tanaman, sehingga semakin banyak daun maka diharapkan pertumbuhan tanaman akan semakin baik. Jumlah daun dipengaruhi oleh adanya penambahan zat pengatur tumbuh ke dalam media. Pada penelitian ini, rata-rata jumlah daun yang tumbuh pada kombinasi perlakuan NAA 0,1 ppm dengan BA 0,1 ppm (A1B1) adalah 2,75  helai daun, hal tersebut dikarenakan pada perlakuan ini pada ulangan ke 4 eksplan embrio jagung manis membentuk kalus sehingga tidak membentuk daun diduga auksin endogen pada eksplan embrio jagung manis mampu menginduksi kalus. Seperti yang dikatakan oleh Pierik (1987) bahwa auksin dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi kalus. Pada perlakuan NAA 0,1 ppm dengan BA 0,5 ppm (A1B2) adalah 3 helai daun, sedangkan pada perlakuan NAA 0,1 ppm dengan BA 1 ppm (A1B3) adalah 3,5  helai daun, dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3.   Hasil Rerata Jumlah Daun Eksplan Embrio Jagung Manis pada Berbagai Konsentrasi BA dan NAA Secara Kultur Jaringan.

Perlakuan
Rerata jumlah daun
(helai)
A1B1 (0,1 ppm NAA + 0,1 ppm BA)
A1B2 (0,1 ppm NAA + 0,5 ppm BA)
   A1B3 (0,1 ppm NAA + 1 ppm BA)

2,5

3

3,5

Tabel 3 menunjukkan pembentukan daun pada kultur jaringan juga dipengaruhi oleh sitokinin. Bahwa penambahan sitokinin golongan BA pada rasio sitokinin yang lebih tinggi dibandingkan auksin pada media dapat mendorong meningkatnya jumlah daun (Purwanto, 2008). Penelitian Widyawati (2010) juga menunjukkan bahwa hanya satu perlakuan saja yang mampu membentuk daun, yaitu pada perlakuan BA 0,5 ppm tanpa NAA. Seperti pada penelitian Hanifah (2007) bahwa perlakuan tanpa NAA dengan pemberian BA 1 ppm dapat memunculkan daun terbanyak yaitu 6 helai. Ini diduga dengan penambahan sitokinin (BA) pada media dapat mendorong sel-sel meristem pada eksplan untuk membelah dan mempengaruhi sel lainnya untuk berkembang menjadi tunas dan membentuk daun.
Dari analisis sidik ragam pada lampiran 5, dapat dilihat bahwa perlakuan pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA dari semua perlakuan dan berbagai konsentrasi menunjukkan pengaruh tidak berbeda nyata terhadap jumlah daun.
Analisis pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA dari berbagai konsentrasi yang diberikan terhadap jumlah daun di peroleh grapik seperti terlihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 3. Rata-rata Jumlah Daun pada Berbagai Konsentrasi ZPT NAA dan BA.

3.  Jumlah Akar
Keberadaan akar bagi pertumbuhan tanaman memegang peranan sangat penting, sebab akar langsung berkombinasi dengan media tanam yang tersimpan nutrisi didalamnya. Akar berfungsi sebagai alat untuk menyerap unsur hara dan nutrisi serta sebagai penopang tubuh tanaman. Kehadiran akar sangat dibutuhkan tanaman, oleh karena itu pada pembiakan vegetatif termasuk kultur jaringan, dilakukan berbagai upaya untuk membentuk akar. Jumlah akar yang banyak akan mengoptimalkan penyerapan nutrisi yang ada pada media kultur. Auksin aktif yang digunakan untuk pembentukan akar adalah Naftalena Acetic Acid (NAA) dan Benziladenin (BA). Kedua jenis tersebut membentuk akar jika digunakan pada konsentrasi rendah. Tipe perakaran yang dihasilkan juga tergantung dari zat pengatur tumbuh yang digunakan. BA menghasilkan sistem perakaran serabut yang kuat (Imelda, 2007).
Pada penelitian ini eksplan yang tumbuh semuanya menghasilkan jumlah akar yang berbeda, akar yang terbentuk berwarna putih dengan bulu-bulu akar halus pada sisi akar. Jumlah akar yang paling banyak terlihat pada perlakuan A1B3 (0,1 ppm NAA + 0,5 ppm BA ). Hasil reratanya dapat dilihat pada tabel 3.
 
Gambar 4. Jumlah Akar pada Setiap Perlakuan: (a). A1B1, (b). A1B2, (c). A1B3.
Tabel 4.   Rerata Jumlah Akar Eksplan Embrio Jagung Manis pada Berbagai Konsentrasi BA dan NAA Secara Kultur Jaringan.

Perlakuan
Rerata jumlah Akar
(buah)
A1B1 (0,1 ppm NAA + 0,1 ppm BA)
A1B2 (0,1 ppm NAA + 0,5 ppm BA)
   A1B3 (0,1 ppm NAA + 1 ppm BA)

5

6,75

4,75

Tabel 4 menunjukkan pembentukan akar pada kultur jaringan dipengaruhi oleh konsentrasi NAA dan BA yang berbeda. Terlihat planlet pada perlakuan A1B3 yang memiliki jumlah akar yang paling sedikit diantara perlakuan yang lain yaitu 4,75 buah. Rahmaniar (2007) menyatakan bahwa auksin aktif yang digunakan untuk pembentukan akar adalah Naphthalene Acetic Acid (NAA) dan Indol Butericacid (IBA). Kedua jenis tersebut membentuk akar jika digunakan pada konsentrasi rendah. Sehingga diduga pemberian BA dengan konsentrasi yang lebih tinggi dari NAA dapat menghambat pembentukan akar. Zulkarnain (2009) menambahkan pemberian NAA dan BA pada konsentrasi rendah yang sama dapat memacu untuk pembentukan kalus pada eksplan tertentu. Pada Tabel 3 dapat dilihat pada perlakuan A1B1 jumlah akar 5 buah peningkatan jumlah akar yang terjadi diduga sel-sel dalam eksplan memikiki kemampuan untuk memproduksi auksin sendiri sehingga mampu mendorong proses metabolisme sel termasuk proses pembentukan akar. Sedangkan perlakuan A1B2 pada Tabel 3 menghasilkan jumlah akar yang lebih banyak di bandingkan perlakuan yang lain. Diduga penambahan BA 0,5 ppm mampu mengimbangi zat tumbuh endogen (auksin endogen) yang tersedia dalam eksplan pada perlakuan tersebut sudah cukup tersedia, sehingga NAA dan BA pada media tersebut sesuai untuk pembentukan akar pada eksplan dengan baik. Roseliza (1995) menyatakan bahwa pada umumnya perbandingan yang relatif tinggi antara auksin dan sitokinin mempengaruhi pembentukan akar.
Dari analisis sidik ragam pada lampiran 7, dapat dilihat bahwa perlakuan pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA dari semua perlakuan dan berbagai konsentrasi menunjukan pengaruh tidak berbedanyata terhadap jumlah akar.
Analisis pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA dari berbagai konsentrasi yang diberikan terhadap jumlah akar di peroleh grapik seperti terlihat pada gambar dibawah ini.
Gambar 5. Rata-rata Jumlah Akar pada Berbagai Konsentrasi ZPT NAA dan BA.

4.  Panjang Akar
            Dari analisis sidik ragam pada lampiran 9, dapat dilihat bahwa perlakuan pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA dari semua perlakuan dan berbagai konsentrasi menunjukan pengaruh sangat nyata terhadap panjang akar. Terlihat rata- rata panjang akar tertinggi terdapat pada perlakuan A1B2 (0,1 ppm NAA + 0,5 ppm BA) yaitu 24,25 cm. Rata-rata panjang akar terendah terdapat pada perlakuan A1B1 (0,1 ppm NAA + 0,1 ppm BA) yaitu 15 cm, sedangkan perlakuan A1B3 (0,1 ppm NAA + 1 ppm BA) memiliki panjang akar 18,5 cm.

                                    
Gambar 6. Panjang Akar pada Setiap Perlakuan: (a). A1B1, (b). A1B2, (c). A1B3.
Tabel 5.    Rerata Panjang Akar Eksplan Embrio Jagung Manis pada Berbagai Konsentrasi BA dan NAA Secara Kultur Jaringan

Perlakuan
Rerata panjang Akar
(cm)
A1B1 (0,1 ppm NAA + 0,1 ppm BA)
A1B2 (0,1 ppm NAA + 0,5 ppm BA)
   A1B3 (0,1 ppm NAA + 1 ppm BA)

15

24,25

18,5

            Menurut Wetherel (1976) agar terjadi pembentukkan akar, komposisi media harus diubah. Sitokinin harus dikurangi atau dihilangkan sedangkan auksin penting sebagai inisitor pertumbuhan akar. Terlihat pada perlakuan A1B2 yang memiliki panjang akar terpanjang, diduga kombinasi NAA dan BA pada media tersebut sesuai untuk pertumbuhan akar pada eksplan embrio jagung manis. Diduga pada embrio terdapat zat tumbuh endogen sehingga penambahan NAA pada perlakuan A1B2 dapat mengimbangi BA yang ada pada media yang menyebabkan media sesuai untuk pertumbuhan akar. Sedangkan perlakuan A1B1 dan A1B3 adanya kombinasi Zat tumbuh endogen serta adanya zat tumbuh eksogen (ZPT yang diberikan) pada media diduga tidak seimbang sehingga menyebabkan pertumbuhan akar terhambat dan terhenti untuk pemanjangan akar.
Pembentukan akar pada kultur jaringan hanya memerlukan auksin tanpa atau hanya sedikit sitokinin, untuk menginduksi pengakaran pada media kultur jaringan, auksin sangat dibutuhkan Wattimena (1988).
Analisis pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA dari berbagai konsentrasi yang diberikan terhadap panjang akar di peroleh grapik seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 7. Rata-rata Panjang Akar pada Berbagai Konsentrasi ZPT NAA dan BA.






                                                                                                              V.      KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1.    Pemberian NAA dan BA pada semua perlakuan dapat menghasilkan pertumbuhan eksplan embrio jagung manis dengan baik (100%).
2.    Kombinasi NAA 0,1 ppm dan BA 0,5 ppm paling optimal untuk pembentukan panjang akar embrio jagung manis secara kultur jaringan.
3.    Untuk persentase eksplan tumbuh, jumlah daun dan jumlah akar semua konsentari NAA dan BA yang diberikan pada penelitian ini menunjukkan tidak berbeda nyata.
B. Saran
Saran yang dapat diberikan adalah perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai jenis dan konsentrasi zat pengatur tumbuh yang sesuai untuk pertumbuhan eksplan embrio jagung manis yang baik dan bebas dari penyakit.









DAFTAR PUSTAKA
Belfield, Stephanie & Brown, Christine. 2008. Field Crop Manual: Maize (A Guide to Upland Production in Cambodia). Canberra.

Diniarti dan S. Najiarti. 1990. Pemanfaatan Lahan Tidur Untuk Tanaman Pnagan. Penebar Swadaya. Jakarta.

George, E.F. dan P.D. Sherrington. 1984. Plant Propogation by Tissue Culture. Exegetics Limited. England.

Gunawan, L. W., 1987. Teknik Kultur Jaringan. Pusat Antar Universitas Institut Pertanian Bogor: Bogor.

           , L, W., 1995. Teknik Kultur In Vitro Dalam Hortikultura. Penebar Swadaya: Jakarta.

Hanifah, N. 2007. Pengaruh Konsentrasi NAA dan BAP terhadap Pertumbuhan Eksplan Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) secara In Vitro. Skripsi Fakultas Pertanian UNS. Surakarta.
Hendaryono, D. P. S. dan A. Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan Pengenalan dan Petunjuk Perbanyakan Tanaman secara Vegetatif-Modern. Yogyakarta: Kanisius.

Hughes, K.W. 1982. Ornamental Species in Cloning Agricultural Plant Via Invitro Techniques. Conger B.V CRC Boca Raton, Florida.

Imelda, M., A.Wulansari, Y.S. Poerba. 2007. Mikropropagasi tanaman ilesiles (Amorphophallus muelleri Blume). Berita Biologi 8 (4): 271-277.

Kartasapoetra, A. G. 1988. Teknologi Budidaya Tanaman Di Daerah Tropik. Aksara.Jakarta.

Koswara, J. 1986. Budidaya Jagung Manis (Zea mayssacharata Sturt L.), Bahan Kursus Budidaya Jagung Manis dan Jagung Merang. Institit Pertanian Bogor. Bogor.

Kyte, L. 1983. Plant From Test Tubes : An Introductions to Micropogations. Porlan, Oregon: Timeber Press.

Malti, Ghosh, Kaushik, Ramasamy, Rajkumar, Vidyasagar. 2011. Comparative Anatomy of Maize and its Application.Intrnational Journal of Bio-resorces and Stress Management,2(3):250-256

Murashige, T. & F. Skoog (1962). A Revised Medium for Rapid Growth and Bioassay with Tobacco Tissue Culture. Physiol. Plant., 15, 473 – 497.

Pierik, R. L. M. 1971. Plant Tissue Culture as Motivation for The Symposium dalam  J.v. Brag et al [eds]. Effect of Sterilisation  on Componen in Nutrien Media. Wageningen: Veneman and Zonen.

         , R. L. M., 1987. In Vitro Culture of Hinger Plant. Martinus Nijhoft Publisher. Netherlands.

Purwanto, A. 2008. Kajian Macam Eksplan dan Konsentrasi IBA Terhadap Multiplikasi Tanaman Manggis (Garcinia mangostana L.) Secara In Vitro. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Purwono, M. S dan S. P. Hratono. 2005. Bertanam Jagung Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.

Roseliza, D. 1995.Kultur padi (Oryza sativa.L) Randah Kuning pada Medium MS dengan Penambahan 2.4.D, Kinetin, NAA dan BA . Skripsi. UNAND

Sano, H. 2001. Proyek Kelapa Sawit Sebuah Kerjasama Internasional dalam Manipulasi Genetik Kelapa Sawit untuk Abad Baru (Diterjemahkan oleh Dedy HB Wicaksono), Tokyo.

Smith, E.F.1992. The Preparations of Micropropagated Plantlets for Transplantations. British Society for Plnt Growth Regulation Newslatter 1.

Suprapto, H. S. 2002 Bertanam Jagung. Penebar Swadaya. Jakarta.

Street, H.E. 1973. Plant Tissue and Cell Cultures. Oxford, London: Blackwell       Scientific Publications.

Tjirosoepomo, G. 1993. Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. Gajah Mada University Press.Yogyakarta.

Wetherell, D. F., 1982. Pengantar Propagasi Tanaman secara In Vitro. Terjemahan : Koensumardiyah. Avery Publishing Group Inc., Wayne, New Jersey.

Wittimena, G.A. 1988. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. PAU Bioteknologi. IPB. Bogor.
Widyawati, G. 2010. Pengaruh Variasi Konsentrasi NAA dan BAP terhadap Induksi dan Pertumbuhan Kalus Jarak Pagar (Jatropha curcas L.). Tesis Program Pasca Sarjana UNS. Surakarta.

Yusnita, 2003. Kultur Jaringan. Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien. Agromedia Pustaka: Jakarta.

Yuwono, T. 2008. Bioteknologi Pertanian. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman. Solusi Perbanyakan Tanaman Budi Daya. Bumi Aksara. Jakarta.

















Lampiran 1 : Komposisi Medium Murashige dan Skoog (MS) (1962)

Stok

Senyawa

Per liter stok
Pemakaian
Stok
Perliter medium
A
B
C




D
E



F
NH­4NO3
KNO3
KH2PO4
­H3BO3
KI
Na2MoO4 . 2H2O
CoCl2 . 6H2O
CaCl2 . 2H2O
MgSO4 . 7H2O
MnSO4 . 4H2O
ZnSO4 . 4H2O
CuSO4 . 5H2O
Na2 EDTA
Fe SO4 . 7H2O
82,500 g
95,000 g
34,000 g
   1,240 g
    0,166 g
    0.050 g
    0,005 g
88,000 g
74,000 g
4,460 g
1,720 g
0,005 g
7,460 g
5,560 g
20,00 ml
20,00 ml
   5,00 ml




5,00 ml
5,00 ml



5,00 ml
1.650,000 mg
1.900,000 mg
170,000 mg
6,200 mg
0,830 mg
0,250 mg
0,025 mg
440,000 mg
370,000 mg
22,300 mg
8,600 mg
0,025 mg
37,300 mg
27,800 mg
Myo-inositol
Glisin
Niasin
Pridoksin-HCl
Tiamin-HCl
10,000 g
0,200 g
0,050 g
0,050 g
0,010 g
10,00 ml
100,000 mg
2,000 mg
0,500 mg
0,500 mg
0,100 mg
Sukrosa
Agar


30.000,000 mg
7.000,000 mg



Lampiran 2. Bagan Plot Percobaan.

                                                                                                                     
II
A1B1

I
A1B2

III
A1B3


A1B1

A1B2

A1B3







A1B1

A1B2

A1B3







A1B1

A1B2

      A1B3







A1B1


A1B2

A1B3

      




   























Lampiran 3 :  Jadwal Kegiatan Penelitian

No
Kegiatan
September
Oktober
November 
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Persiapan  
X











2
Sterilisasi Alat                         
X











3

Pembuatan larutan Stok Media dan larutan Stok ZPT

X










4
   Pembuatan Media                            


X









5
Sterilisasi Media


X









6
Penanaman Eksplan



X








7
Pengamatan  :                   













a.      Persentase Eksplan Yang Hidup







X





b.      Jumlah Daun






X





c.       Jumlah Akar













d.      Panjang Akar







X










Lampiran  4 : Persentase Eksplan Hidup
perlakuan
Ulangan

total
rata - rata

I
II
III
IV


A1B1
Hidup
Hidup
Hidup

Hidup
100 %
100 %
A1B2
Hidup
Hidup
Hidup

Hidup
100 %
100 %
A1B3
Hidup
Hidup
Hidup

Hidup
100 %
100 %
Total
100 %
100 %
100 %

100 %
100 %

Rataan
100 %
100 %
100 %

100 %

100 %


Lampiran  5 : Jumlah Daun
perlakuan
Ulangan

total
rata - rata

I
II
III
IV


A1B1
3
3
4
0
10
2,5
A1B2
3
3
3
3
12
3
A1B3
3
3
4
4
14
3,5
Total
9
9
11
7
36

Rataan
3
3
3,6
2,4

3





Lampiran 6 : Daftar Analis Sidik Ragam Jumlah Daun
SK
db
JK
KT
F-hitung
5%
1%
Total
2
12




Perlakuan
11
2
1
0,84 tn
3,98
7,20
Galat
9
10
1,2




Keterangan  :    KK = 36,5 %
                     :    tn    = Tidak nyata

Lampiran  7 : Jumlah Akar
perlakuan
                                    Ulangan

total
rata - rata

I
II
III
IV


A1B1
6
7
7
0
20
5
A1B2
6
6
9
6
27
6,75
A1B3
5
5
5
4
19
4,75
Total
17
18
21
10
66

Rataan
5,6
6
7
3,4

5,5




Lampiran 8 : Daftar Analis Sidik Ragam Jumlah Akar
SK
 

Total
db

2
JK

51
KT
F-hitung
5%
1%
Perlakuan
11
9,5
4,75
1,03 tn
3,98
7,20
Galat
9
41,5
4,61




Keterangan  :    KK = 39,03 %
                     :    tn    = Tidak nyata


Lampiran  9 : Panjang Akar
perlakuan
Ulangan

total
rata - rata

I
II
III
IV


A1B1
17
26
17
0
60
15
A1B2
23
35
20
19
97
24,25
A1B3
16
19
19
20
74
18,5
Total
56
80
56
39
231

Rataan
18,6
26,7
18,7
13

19,25





Lampiran 10 : Daftar Analis Sidik Ragam Panjang Akar
SK
db
JK
KT
F-hitung
5%
1%
Total
2
700,25




Perlakuan
11
174,5
87,25
28,84 **
3,98
7,20
Galat
9
525,75
58,41




Keterangan  :    KK = 39,7 %
                     :    **   = Berbeda sangat nyata





Tidak ada komentar:

Posting Komentar