I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Jagung manis
(Zea mays saccharata sturt L.)
merupakan salah satu makanan yang banyak digemari oleh masyarakat Indonesia,
sehingga tidak heran kalau permintaan pasar terhadap jagung cukup tinggi. Hal
ini merupakan peluang yang baik bagi para petani untuk dapat lebih meningkatkan
produksi jagung (Danarti dan Najiarti, 1999).
Jagung
manis (sweet corn) adalah varietas yang secara genetis tinggi aakan gula dan
rendah akan zat tepung dan sering dimakan pada saat kondisinya belum matang. Zat tepung atau starch dari
tanaman jagung juga dapat dibentuk menjadi plastik, bahan perekat, dan berbagai
macam produk kimia lainnya. Jagung juga bermanfaat bagi kesehatan meliputi pengendalian diabetes,
pencegahan penyakit jantung, menurunkan hipertensi dan pencegahan cacat tabung
syaraf-saat lahir. Jagung atau tepung jagung merupakan salah satu dari sereal
paling populer di dunia dan membentuk makanan pokok di banyak negara termasuk
Amerika Serikat, Afrika dll. Tidak hanya menyediakan kalori yang diperlukan
untuk metabolisme sehari-hari, tetapi merupakan sumber yang kaya vitamin A, B,
E dan banyak mineral. kandungan serat tinggi dengan memastikan bahwa berperan
dalam pencegahan penyakit pencernaan seperti sembelit dan wasir serta kanker
kolorektal (Malti et al., 2011).
Prospek usaha tani tanaman masih cukup cerah bila
dikelola secara intensif dan komersial berpola agribisnis. Khusus di Indonesia
masih rendahnya produksi jagung nasional antara lain disebabkan belum meluasnya
penggunaan varietas unggul, minimnya permodalan petani serta pemakaian pupuk
dan bercocok tanam yang belum memenuhi syarat yang dianjurkan pemerintah
(Suprapto, 2002).
Berdasarkan paparan diatas maka penulis merasa
tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ Pengaruh Zat Pengatut Tumbuh Naftalena Acetic Acid (NAA) dan Benziladenin (BA) Terhadap Pertumbuhan Embrio Jagung Manis (Zea
may ssaccharata Sturt L.) Secara Kultur Jaringan.
B. Hipotesis
Ada pengaruh yang nyata pada pertumbuhan embrio jagung manis akibat perbedaan konsentarasi zat pengatur tumbuh NAA dan BA.
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui konsentrasi Zat Pengatur Tumbuh IAA dan BA yang tepat terhadap pertumbuhan embrio jagung
secara in vitro. Serta bertujuan untuk mengetahuai adanya interaksi
antara zat pengatur tumbuh NAA dan BA terhadap pertumbuhan embrio jagung manis
dalam media MS secara kultur
jaringan.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat untuk mendapatkan data dalam
penyusunan skripsi yang merupakan salah satu syarat dalam menempuh ujian meja
hijau di Fakultas Pertanian Universitas Asahan serta diharapkan dapat bermanfaat
sebagai literatur dan bacaan bagi Mahasiswa Fakultas pertanian Universitas Asahan dalam memberikan informasi tentang konsentrasi
terbaik dalam penggunaan zat pengatur tumbuh NAA dan BA terhadap pertumbuhan
embrio jagung manis secara kultur jaringan.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
A. Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Jagung Manis
Menurut Purwono dan Hartono (2005), tanaman jagung manis dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom
: Plantae
Divisi :
Spermatophyta
Subdivisi :
Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Graminae
Family :
Graminaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea
mays saccharata sturt L
1.
Biji
Biji tanaman
jagung dikenal sebagai kernel terdiri dari 3 bagian utama, yaitu dinding sel,
endosperma, dan embrio. Bagian biji ini merupakan bagian yang terpenting dari
hasil pemaneman (Belfield dan Brown, 2008).
2.
Daun
Daun terbentuk dari pelepah dan
daun (leaf blade dan sheath). Daun muncul dari ruas-ruas
batang. Pelepah daun muncul sejajar dengan batang. Pelepah daun bewarna
kecoklatan yang menutupi hampir semua batang jagung (Belfield dan Brown,
2008).
3.
Batang
Batang tanaman
jagung beruas-ruas dengan jumlah 10 -
40 ruas. Tanaman jagung umumnya tidak bercabang, tinggi tanaman tergantung varietas dan tempat penanaman, umumnya berkisar 60
cm – 300 cm (Tjitrosoepomo, 1993).
4.
Akar
Jagung termasuk tanaman berakar serabut
yang terdiri dari beberapa akar, yaitu akar primer, akar lateral, dan akar
udara. Sistem perakaran pada tanaman jagung tersebar kesetiap jurusan, dan
perkembangan akar tersebut tergantung
dari kesuburan tanah dan keadaan air tanah (Danarti dan Najiyati, 1999).
5. Bunga
Jagung manis termasuk tanaman yang berumah satu (monoceus) yang
terdiri dari bunga jantan dan betina. Setiap bunga mempunyai tangkai putik, dan
kumpulan dari tangkai putik ini sering disebut sebagai rambut jagung (Purwono
dan Hartono, 2005).
B. Syarat Tumbuh
1.
Iklim
Tanaman jagung dapat tumbuh di
dataran rendah sampai dataran tinggi 1.300 m di atas permukaan laut (dpl),
kisaran suhu antara 13ºC sampai 38ºC dan mendapat sinar matahari penuh.
Tanaman jagung tumbuh dan berproduksi optimum di dataran rendah Indonesia
sampai ketinggian 1800 m di atas permukaan laut (dpl), dan memerlukan curah hujan
ideal sekitar 85 mm per tahun sampai 200 mm per tahun selama masa pertumbuhan (Purwono dan Hartono 2005).
2.
Tanah
Tanah sebagai tempat tumbuh
tanaman jagung harus mempunyai kandungan hara yang cukup. Tersedianya zat
makanan di dalam tanah sangat menunjang proses pertumbuhan tanaman hingga
menghasilkan. Tanaman jagung tidak membutuhkan persyaratan yang khusus karena
tanaman ini tumbuh hampir pada semua jenis tanah asalkan tanah tersebut subur,
gembur, kaya akan bahan organik dan drainase maupun aerase baik.
Kemasaman tanah (pH) yang diperlukan untuk pertumbuhan optimal tanaman jagung
antara pH 5,5 sampai pH 6,5 tetapi yang paling baik adalah pH 6,8 (Purwono dan Hartono 2005).
Menurut Purwono dan Hartono
(2005), jagung manis mempunyai
nilai nutrisi yang lebih baik dibandingkan dengan jagung biasa. Kandungan
zat gizi jagung manis tiap 100 gram berat bahan yang dapat dimakan tertera pada
Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Nilai Zat Gizi Jagung Manis Tiap 100 g yang Dapat Dimakan.
|
No
|
Zat gizi
|
Kandungan zat gizi
|
|
1
|
Energi
|
96,0
kalori
|
|
2
|
Protein
|
3,5
g
|
|
3
|
Lemak
|
1,0
g
|
|
4
|
Karbohidrat
|
22,8
g
|
|
5
|
Kalium
|
3,0
mg
|
|
6
|
Fosfor
|
111,0
mg
|
|
7
|
Besi
|
0,7
mg
|
|
8
|
Vitamin A
|
400,0
SI
|
|
9
|
Vitamin B
|
0,15 mg
|
|
10
|
Vitamin C
|
12,0
mg
|
|
11
|
Air
|
72,7 g
|
C. Kultur Jaringan
Kuktur jaringan adalah istilah umum yang
ditujukan pada budidaya secara in vitro
terhadap berbagai bagian tanaman yang meliputi batang, daun, akar, bunga,
kalus, sel, protoplas, dan embrio. Bagian – bagian tersebut yang diistilahkan
sebagai eksplan, diisolasi dari kondisi in
vivo dan dikultur pada medium buatan yang steril sehingga dapat
beregenerasi dan berdiferensiasi menjadi tanaman lengkap (Street, 1973)
Tumbuhan memiliki sifat totipotency, artinya tidak hanya dari sel telur atau sperma (yang
merupakan sel perkembangbiakan), tapi dari sel-sel akar, daun, batang, dan sel
tubuh tumbuhan lainnya dapat ditumbuhkan kembali, atau dibiakkan
dengan mudah, contoh yang paling ekstrim adalah dengan hanya memakai sebuah sel
yang terpisah sekalipun, badan tumbuhan keseluruhannya dapat ditumbuhkan
kembali. Karena adanya sifat inilah, dengan teknik-teknik yang telah lama
dikenal seperti stek, okulasi, cangkok, serta dengan metode baru seperti kultur
jaringan tanpa bakteri, perbanyakan klon tumbuhan dapat dilakukan tanpa batas.
Sementara itu, dengan kemajuan teknik rekayasa genetika dan rekayasa hayati
lainnya, teknik kultur jaringan menjadi menjadi salah satu teknik
dasar yang diterapkan di bioteknologi tumbuhan, mulai dari riset dasar sampai
aplikasi (Sano, 2001).
Menurut Yusnita (2003)
dibanding dengan perbanyakan tanaman secara konvensional, perbanyakan secara
kultur jaringan mempunyai beberapa kelebihan sebagai berikut : untuk
memperbanyak tanaman tertentu yang sulit atau sangat lambat diperbanyak secara
konvensional, menghasilkan jumlah bibit tanaman yang banyak dalam waktu relatif
singkat sehingga lebih ekonomis, tidak memerlukan tempat yang luas, dapat
dilakukan sepanjang tahun tanpa tergantung musim, bibit yang dihasilkan lebih
sehat.
Akan tetapi tidak semua sel pada tumbuhan mampu
melaksanakan pembesaraan dan pembelahan. Kegiatan pembesaran dan pembelahan sel
dilaksanakan pada jaringan tertentu yang terbatas pada jaringan meristem
seperti pucuk, ujung akar atau buku-buku pada tumbuhan monokotil
(Sastramihardja dan Siregar, 1994).
Kultur
embrio merupakan salah satu cara dalam perbanayakan secara in vitro dengan menggunakan embrio yang diperoleh dari biji buah
muda (posisi biji pada ⅓ bagian tengah buah) (Zulkarnain, 2009).
Kultur embrio adalah memisahkan embrio yang belum
dewasa dan menumbuhkannya secara kultur jaringan untuk mendapatkan tanaman yang
viabel, tujuan dari kultur embrio adalah : memperpendek siklus
breeding, menguji kecepatan viabilitas biji, memperbanyak tanaman langka, dan memperoleh
hibrid yang langka (Daisy dan Ari, 1994).
D. Eksplan
Eksplan adalah bagian kecil
jaringan atau organ yang dipisahkan dari tanaman induk dan kemudian
dikulturkan. Keberhasilan
pengkulturan eksplan tergantung pada faktor yang meliputi genotif eksplan, umur
fisiologis juga sumber jaringan (Hughes, 1982).
Dalam
pemilihan bagian tanaman, perlu juga dipertimbangkan tujuan dari kulturnya.
Bagian–bagian tertentu akan memberikan variasi dalam jumlah kromosom maupun
variasi dalam beberapa gen. Endosperm hanya digunakan untuk mendapatkan kultur
yang triploid. Selain bagian tanaman, genotif atau varietas yang digunakan juga
ikut menentukan keberhasilan regenerasi (Gunawan, 1995).
E. Media Kultur Jaringan
Media yang digunakan secara luas adalah
media MS yang dikembangkan pada tahun 1962. Dari berbagai komposisi dasar ini
kadang-kadang dibuat modifikasi, misalnya hanya menggunakan ½ dari konsentrasi
dari garam-garam makro yang digunakan (1/2 MS) atau menggunakan komposisi garam
makro berdasarkan MS tetapi mikro dan vitamin berdasarkan komposisi heller. Zat
pengatur tumbuh yang akan digunakan disesuaikan untuk inisiasi kultur (Gunawan,
1995).
Medium dapat digunakan untuk
menghasilkan kalus yang selanjutnya diinduksi membentuk tanaman yang lengkap
(planlet), sedangkan medium cair biasanya digunakan untuk kultur sel. Medium yang
digunakan mengandung lima komponen utama yaitu senyawa organik,
sumber karbon, vitamin, zat pengatur tumbuh dan suplemen organik (Yuwono,
2008).
F. Lingkungan In Vitro
Lingkungan tumbuh yang dapat
mempengaruhi regenerasi tanaman meliputi temperature, penyinaran (panjang
penyinaran), intensitas penyinaran dan kualitas sinar serta ukuran wadah kultur. Cahaya berperan didalam perkembangan dan pertumbuhan tanaman yang disebut
fotomorfogenesis yang artinya cahaya dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan bagian-bagian tanaman, misalnya tunas, pucuk dan lain-lain. Cahaya
meliputi kualitas, intensitas cahaya dan lama penyinaran (Gunawan, 1995).
Temperatur
didalam ruang kultur jaringan diharapkan dapat diatur. Banyak laporan
mengatakan bahwa temperatur yang baik untuk pertumbuhan tanaman dalam in vitro antara 25-28oC yang merupakan suhu ruangan normal. Suhu ruangan untuk negara tropis dapat diturunkan dengan pemasangan AC. Pemakaian AC mutlak
karena ruang kultur merupakan ruangan tertutup yang sedikit sekali mempunyai
aliran udara bebas (Gunawan, 1987).
G. Zat Pengatur Tumbuh
Zat pengatur tumbuh auksin dan
sitokinin memegang peranan penting. Auksin dan sitokinin tidak hanya menentukan
tumbuhnya jaringan yang dikulturkan, tetapi bagaimana jaringan itu tumbuh. Penggunaan
taraf sitokinin relatif tinggi terhadap auksin akan merangsang inisiasi tunas,
sedangkan keadaan sebaliknya akan merangsang inisiasi akar. Auksin dan kadang-kadang
sitokinin dibutuhkan untuk merangsang pembelahan sel dan pembentukan kalus. Untuk
merangsang terbentuknya embrio somatik, umumnya digunakan auksin
kuat, seperti 2,4 D atau NAA (Yusnita, 2003).
Auksin adalah sekelompok
senyawa yang fungsinya merangsang pemanjangan sel-sel pucuk yang spektrum
aktivitasnya menyerupai IAA (indole acetic acid) Pierik (1997) menyatakan bahwa
pada umumnya auksin meningkatkan pemanjangan sel, pembelahan sel, dan
pembentukan akar adventif. Auksin berpengaruh pula untuk menghambat pembentukan
tunas adventif dan tunas aksilar, namun kehadirannya dalam medium kultur
dibutuhkan untuk meningkatkan embriogenesis somatik pada kultur suspensi sel.
Konsentrasi auksin yang rendah akan meningkatkan pembentukan akar adventif,
sedangkan auksin konsentrasi tinggi akan merangsang pembentukan kalus dan
menekan morfogenesis (Smith, 1992).
Sitokinin adalah senyawa yang
dapat meningkatkan pembelahan sel pada jaringan tanaman serta mengatur
pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sama halnya dengan kinetin
(6-furfurylaminopurine). Peran auksin dan sitokinin sangat nyata dalam pengaturan
pembelahan sel, perpanjangan sel, diferensiasi sel, dan pembentukan organ
(Zulkarnain, 2009).
Pemberian sitokinin ke dalam
medium kultur jaringan penting untuk menginduksi perkembangan dan pertumbuhan
eksplan. Senyawa tersebut meningkatkan pembelahan sel, proliferasi pucuk, dan
morfogenesis pucuk (Smith, 1992). Bahkan menurut George dan
Sherrington (1984), apabila ketersediaan sitokinin di dalam medium kultur
sangat terbatas maka pembelahan sel pada jaringan yang dikulkturkan akan
terhambat. Akan tetapi, apabila jaringan tersebut disubkulturkan pada medium
dengan kandungan sitokinin yang memedai maka pembelahan sel akan berlangsung
scara sinkron.
Selain meningkatkan pembelahan
sel dan inisiasi pucuk, sitokinin terlibat pula di dalam kontrol perkecambahan
biji, memengaruhi absisi daun dan transpor auksin, serta menunda penuaan (Kyte,
1983). Sitokinin biasanya tidak digunakan pada tahap pengakaran pada
mikropropagasi karena aktifitasnya dapat menghambat pembentukan akar,
menghalangi pertumbuhan akar, dan menghambat pengaruh auksin terhadap inisiasi
akar, pada kultur jaringan sejumlah spesies tertentu (George
dan Sherrington, 1984).
III.
BAHAN DAN METODE
PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium kultur
jaringan Fakultas Pertanian Universitas Asahan, yang dimulai dari bulan Juli 2012 hingga Oktober 2012.
B. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih
jagung manis, larutan stok media MS, ZPT (IAA dan BA), agar-agar, glukosa, NaOH
1 M, HCl, dan aquades, alkohol 70 %, 80%, dan 95%.
Alat-alat yang
digunakan adalah autoklaf, Laminar Air Flow (LAF), botol kultur, erlenmeyer,
pipet skala, gelas ukur, petridis, scalpel, gunting, bunsen, timbangan
analitik, stirrer magnetik, batang pengaduk, lemari es, pH meter/kertas lakmus,
aluminium foil, kertas millimeter, pinset, oven, tisu dan alat-alat lainnya
yang mendukung penelitian ini.
C. Metode Penelitian
Penelitian
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Fakltorial dengan dua faktor yang
diteliti yaitu :
Faktor I : Tingkat konsentrasi pemberian NAA yang terdiri dari satu taraf, yaitu :
A1
= Perlakuan dengan penambahan NAA 0,1 ppm
Faktor II : Tingkat konsentrasi pemberian BA yang
terdiri dari tiga taraf, yaitu :
B1
= Perlakuan dengan penambahan BA 0,1 ppm
B2
= Perlakuan dengan penambahan BA 0,5 ppm
B3
= Perlakuan dengan penambahan BA 1 ppm
Dengan
demikian diperoleh 3 kombinasi perlakuan dan masing-masing diulang sebanyak empat kali.
Hasil penelitian
kualitatif dianalisis dengan meliputi data visual yang dianalisis dengan metode
deskriptif. Sedangkan data kuantitatif dianalisis dengan menggunakan analisis sidik
ragam uji F taraf 5 %.
Yijk = µ + αi
+ βj + (αβ)ij
+ εijk
Dimana
:
Yijk = Hasil pengamatan pada
konsentrasi NAA
taraf ke-i dan konsentrasi BA pada taraf ke-j
µ =
Nilai pengamatan rata-rata
αi = Efek dari konsentrasi NAA pada taraf ke-i
βj =
Efek dari konsentrasi BA pada taraf ke-j
(αβ)ij = Interaksi
dari pemberian konsentrasi NAA pada taraf ke-i dengan
konsentrasi BA pada taraf ke-j
εijk = Pengaruh error dari
pemberian konsentrasi NAA pada taraf ke-i,
konsentrasi BApada taraf ke-j pada ulangan ke-k
Untuk melihat persamaan regresi yang di peroleh, di tentukan dari
nilai komponen dengan derajat bebas (db) tunggal yang berbeda nyata pada sidik
ragam.
D. Pelaksanaan Penelitian
1.
Sterilisasi Alat
Tujuan dari sterilisasi adalah untuk
membersihkan seluruh alat-alat yang akan digunakan dalam penelitian kultur
jaringan sehingga terbebas dari hal-hal yang dapat menimbulkan kontaminasi. Alat-alat tersebut dicuci dengan deterjen,
kemudian dibilas dengan air mengalir, setelah itu dikeringkan. Kemudian alat
seperti skapel, pipa skala, pinset dan cawan petri dibungkus dengan kertas,
sedang untuk erlenmeyer dan gelas ukur permukaannya ditutup dengan aluminium
foil. Setelah itu, botol kultur dan alat-alat dimasukkan ke dalam autoklaf pada
tekanan 17,5 psi, dengan suhu 1210C
selama 60 menit. Kemudian alat-alat yang dibungkus kertas dimasukkan ke
dalam oven.
2.
Pembuatan Larutan Stok
Pembuatan larutan stok bertujuan untuk
memudahkan pekerjaan dalam membuat media . Larutan stok dibuat sesuai dengan komposisi media
MS, oleh karena unsur hara mikronutrien diperlukan jumlahnya sangat sedikit,
maka stok mikronutrien harus dibuat dalam suatu wadah sebagai stok campuran.
Dalam penelitian ini akan dibuat 100 kali konsentrasi. Tujuannya adalah agar
dalam penimbangan komponen bahan kimia tidak mengalami kesulitan sebab bahan
kimia tersebut sangat kecil. Langkah-langkah pembuatan larutan stok sebagai
berikut :
a. Menimbang bahan-bahan kimia mikronutrien dan
makronutrien dengan timbangan analitik masing-masing sebanyak :
Mn SO4 H2 O 2.230,0 mg
ZnSO4.4H2O 860,0 mg
H3BO3 620,0 mg
KI 83,0 mg
NaM0O42H2O
25,0 mg
CuSO4.5H2O 2,5 mg
C0Cl2.6H2O 2,5 mg
Bahan kimia yang lainya lihat lampiran 1.
b. Bahan-bahan tersebut dimasukkan satu per
satu kedalam gelas piala 500 ml yang berisi aquades steril sebanyak 300 ml.
Setiap kali memasukkan bahan kimia harus segera dilarutkan
c. Larutan yang sudah jadi kemudian ditambah
aquades steril sampai volume menjadi 500 ml.
d. Botol-botol tersebut ditutup dengan rapat,
dan diberi label : Mikronutrien/makronutrien 100 kali, 5 ml/l.
e. Untuk membuat 1 liter medium memerlukan 5
ml stok, dan untuk membuat 500 ml medium memerlukan 2,5 ml stok.
3.
Pembuatan Stok Zat Pengatur Tumbuh
Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) hanya diperlukan dalam
jumlah sedikit sekali. Untuk membuat larutan stok NAA sebanyak 100 ml dengan dosis 1000
ppm (1 mg/ml langkah-langkahnya sebagai berikut :
a. Bahan sebanyak 100 mg ditimbang dan setiap
bahan dituang kedalam gelas piala 100 ml yang berisi aquades steril 70 ml.
b. Sambil diaduk, diteteskan sedikit larutan
KOH 1 N dengan hati-hati sampai larutan jernih.
c. Larutan dipindahkan dalam erlenmeyer 100
ml dan ditambah dengan aquades sampai larutan menjadi 100 ml.
d. Pindahkan kedalam wadah larutan stok,
tutup rapat dan beri label kemudian simpan dilemari es.
e. Untuk membuat larutan stok BA
langkah-langkah pembuatannya sama dengan pembuatan stok NAA diatas.
f. Jadi jika larutan stok yang tersedia tadi
dalam dosis 1000 ppm, dan ingin membuat medium dengan dosis 1 ppm sebanyak 1
liter maka larutan stok yang akan kita ambil adalah :
V1. M1 = V2. M2
V1 =
Volume larutan yang dicari (x)
M1 = Dosis
larutan stok yang tersedia
V2 = Volume
medium yang akan dibuat
M2 = Dosis
medium yang akan dibuat
Maka
penghitungannya sebagai berikut :
V1. M1 = V2 . M2
X .
1000 = 1000
. 1
1000 X = 1000
X = 1000
: 1000
X = 1
ml/liter
Jadi
untuk membuat medium dengan dosis 1 ppm sebanyak 1 liter maka larutan stok yang
akan kita ambil adalah 1 ml/liter.
4.
Pembuatan Media
Tahapan pembuatan medium MS adalah sebagai berikut
:
a. Menyiapkan
alat-alat yang akan digunakan untuk proses membuatan medium MS.
b. Bahan
kimia baik makro, mikronutrien, agar, sukrosa dan stok ZPT disiapkan.
c. Siapkan
gelas piala 1000 ml isi dengan aquades steril 200 ml, masukkan larutan stok makronutrien, setiap memasukkan larutan bahan kimia gelas
digoyang pelan-pelan agar larutan tercampur rata. Masukkan stok besi, masukkan larutan
stok mikronutrien, masukkan stok vitamin, masukkan mio-inositol, tambahkan ZPT NAA dan BA sesuai konsentrasi
perlakuan masukkan sukrosa 30 g/l, masukkan serbuk agar-agar 7g/l. Letakkan gelas pada stirrer magnetik agar larutan teraduk merata tambahkan aquades hingga volume larutan
mencapai 500 ml sambil diukur
pH larutan 5,7 - 5,8, bila pH kurang dari 5,8 tambah dengan NaOH dan bila lebih dari 5,8 tambah HCl.
Panaskan masing-masing larutan sampai mendidih, lalu tuangkan kedalam botol kultur
kurang lebih 30 ml/botol.
5.
Sterilisasi Media
Kontaminasi mikroba berada pada media
sejak awal persiapan. Untuk itu harus menggunakan alat-alat berbahan kaca dan
alat-alat bantu yang benar-benar bersih dan steril. Sterilisasi media dilakukan dalam autoklaf pada
tekanan pada tekanan 17,5 psi dengan suhu 1210C selama 30 menit.
Setelah lama pensterilan media tercapai, dilakukan penanganan pendinginan
secara hati-hati, yaitu tekanan pada autoklaf dikurangi perlahan-lahan hingga
tekanan didalam autoklaf memcapai nol. Setelah dingin media diletakkan pada rak
simpan media, hingga media siap dipakai.
6.
Sterilisasi Eksplan dan Penanaman Eksplan
Permukaan eksplan (bahan tanam) umumnya
membawa sejumlah mikrobia kontaminan, maka sterilisasi permukaan eksplan sangat
diperlukan sebelum ditanam pada media. Prosedur sterilisasi eksplan :
- Biji jagung dicuci dengan detergen selama 30 menit sambil terus digojok kemudian dibilas dengan air mengalir.
- Pengerjaan selanjutnya dilakukan di Laminar Air Flow (LAF) yang telah dibersihkan/disterilkan dengan alkohol 96%.
- Eksplan yang sudah bersih direndam dalam larutan fungisida Benlate 2 g/l + Dithane M-45 2 g/l + Tween-20 sebanyak 2-3 tetes, kemudian digojok selama 30 menit. Selanjutnya dibilas dengan aquades steril minimal sebanyak 3 kali.
- Eksplan direndam dalam larutan Clorox 20% selama 10 menit sambil digojok kemudian dibilas dengan aquades steril minimal sebanyak 3 kali.
- Eksplan direndam dalam larutan Betadine 5% selama 10 menit sambil digojok kemudian dibilas dengan aquades steril minimal sebanyak 3 kali.
- Selanjutnya, biji-biji tersebut dipindahkan kedalam petridish dan dibelah dengan hati-hati menggunakan pisau skalpel dan pinset steril, setelah itu embrionya diisolasi. Embrio yang sudah diambil selanjutnya ditanam pada medium yang telah disiapkan.
- Selanjutnya medium yang telah berisi eksplan dipindahkan keruangan inkubasi dan diletakkan pada rak kultur.
7. Peubah yang diamati
a. Persentase Eksplan yang Tumbuh (%)
Pengamatan dilakukan pada akhir penelitian (20 HST) dengan cara menghitung jumlah eksplan yang hidup setiap perlakuan dengan rumus :
Persentase eksplan hidup =
× 100 %
b. Jumlah Daun (helai)
Jumlah daun diamati dengan cara
menghitung total daun dalam setiap eksplan yang tumbuh, dilakan pada akhir
penelitian (20 HST).
c. Jumlah Akar (buah)
Jumlah akar diamati dengan cara menghitung total akar dalam setiap
eksplan yang tumbuh, dilakukan pada akhir penelitian (20 HST).
d. Panjang Akar (cm)
Panjang akar di ukur pada akhir
penelitian (20 HST) dengan cara mengukur panjang akar masing-masing eksplan
yang tumbuh dengan
menggunakan kertas millimeter mulai dari pangkal munculnya daun sampai ujung akar terpanjang.
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil dan Pembahasan Penelitian
1. Persentase
Eksplan yang Tumbuh
Respon eksplan embrio jagung manis (Zea mays saccharata sturt L.) secara
kultur jaringan akibat pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA selama 20 hari
pengkulturan terhadap persentase eksplan tumbuh dapat dilihat pada tabel 1.
Pada
Tabel 2 terlihat bahwa persentase tumbuh eksplan embrio jagung manis semua
perlakuan 100% tumbuh, hal tersebut
disebabkan eksplan yang digunakan adalah embrio dari biji jagung yang memiliki
titik tumbuh yang aktif membelah dan memanjang untuk membentuk daun, akar dan
batang.
Gambar 1. Semua Eksplan Yang Dikulturkan Tumbuh.
Tabel 2. Hasil Persentase Tumbuh Embrio Jagung Manis pada Berbagai Konsentrasi
BA dan NAA Secara Kultur Jaringan.
|
Perlakuan
|
Persentase
Tumbuh (%)
|
|
A1B1 (0,1 ppm NAA + 0,1 ppm
BA)
A1B2 (0,1 ppm NAA + 0,5 ppm BA)
A1B3 (0,1 ppm NAA + 1 ppm BA)
|
100
100
100
|
Tabel 2 menunjukkan bahwa konsentrasi NAA dan BA yang
diberikan tidak bersifat menghambat pertumbuhan eksplan embrio jagung manis,
justru mempercepat pertumbuhan terlihat pada setiap perlakuan menunjukkan
ekplan dapat tumbuh.
Pada
Tabel 2 di atas dapat dilihat pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA dari
berbagai konsentrasi yang ditambahkan pada media menunjukkan pengaruh tidak berbeda
nyata pada semua perlakuan terhadap persentase tumbuh eksplan embrio jagung
manis.
Analisis
pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA dari berbagai konsentrasi
yang diberikan terhadap persentase eksplan tumbuh di peroleh grapik seperti
terlihat pada gambar dibawah ini.
Gambar
2. Rata-rata Persentase Eksplan
Tumbuh pada Berbagai Konsentrasi ZPT NAA dan BA.
2. Jumlah
Daun
Daun
merupakan pusat terjadinya fotosintesis yang merupakan sumber bahan makanan bagi tanaman, sehingga semakin banyak daun
maka diharapkan pertumbuhan tanaman akan semakin baik. Jumlah daun
dipengaruhi oleh adanya penambahan zat pengatur tumbuh ke dalam media. Pada
penelitian ini, rata-rata jumlah daun yang tumbuh pada kombinasi perlakuan NAA
0,1 ppm dengan BA 0,1 ppm (A1B1) adalah 2,75 helai daun, hal tersebut dikarenakan pada
perlakuan ini pada ulangan ke 4 eksplan embrio jagung manis membentuk kalus
sehingga tidak membentuk daun diduga auksin endogen pada eksplan embrio jagung
manis mampu menginduksi kalus. Seperti yang dikatakan oleh Pierik (1987) bahwa
auksin dikenal sebagai hormon yang mampu berperan menginduksi kalus. Pada perlakuan
NAA 0,1 ppm dengan BA 0,5 ppm (A1B2) adalah 3 helai daun, sedangkan
pada perlakuan NAA 0,1 ppm dengan BA 1 ppm (A1B3) adalah 3,5 helai daun, dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Hasil Rerata Jumlah Daun Eksplan Embrio Jagung
Manis pada Berbagai Konsentrasi BA dan NAA Secara Kultur Jaringan.
|
Perlakuan
|
Rerata
jumlah daun
(helai)
|
|
A1B1 (0,1 ppm NAA + 0,1 ppm
BA)
A1B2 (0,1 ppm NAA + 0,5 ppm BA)
A1B3 (0,1 ppm NAA + 1 ppm BA)
|
2,5
3
3,5
|
Tabel
3 menunjukkan pembentukan daun pada kultur jaringan juga dipengaruhi oleh
sitokinin. Bahwa penambahan sitokinin golongan BA pada rasio sitokinin yang
lebih tinggi dibandingkan auksin pada media dapat mendorong meningkatnya jumlah
daun (Purwanto, 2008). Penelitian Widyawati (2010) juga menunjukkan bahwa hanya
satu perlakuan saja yang mampu membentuk daun, yaitu pada perlakuan BA 0,5 ppm
tanpa NAA. Seperti pada penelitian Hanifah (2007) bahwa perlakuan tanpa NAA
dengan pemberian BA 1 ppm dapat memunculkan daun terbanyak yaitu 6 helai. Ini
diduga dengan penambahan sitokinin (BA) pada media dapat mendorong sel-sel
meristem pada eksplan untuk membelah dan mempengaruhi sel lainnya untuk
berkembang menjadi tunas dan membentuk daun.
Dari analisis sidik ragam pada lampiran 5,
dapat dilihat bahwa perlakuan pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA dari
semua perlakuan dan berbagai konsentrasi menunjukkan pengaruh tidak berbeda nyata terhadap
jumlah daun.
Analisis
pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA dari berbagai konsentrasi
yang diberikan terhadap jumlah daun di peroleh grapik seperti terlihat pada
gambar dibawah ini.
Gambar 3. Rata-rata
Jumlah Daun
pada Berbagai Konsentrasi ZPT NAA dan BA.
3. Jumlah Akar
Keberadaan akar bagi pertumbuhan tanaman memegang
peranan sangat penting, sebab akar langsung berkombinasi dengan media tanam
yang tersimpan nutrisi didalamnya. Akar berfungsi sebagai alat untuk menyerap
unsur hara dan nutrisi serta sebagai penopang tubuh tanaman. Kehadiran akar
sangat dibutuhkan tanaman, oleh karena itu pada pembiakan vegetatif termasuk
kultur jaringan, dilakukan berbagai upaya untuk membentuk akar. Jumlah akar
yang banyak akan mengoptimalkan penyerapan nutrisi yang ada pada media kultur.
Auksin aktif yang digunakan untuk pembentukan akar adalah Naftalena Acetic Acid
(NAA) dan Benziladenin (BA). Kedua jenis tersebut membentuk akar jika digunakan
pada konsentrasi rendah. Tipe perakaran yang dihasilkan juga tergantung dari
zat pengatur tumbuh yang digunakan. BA menghasilkan sistem perakaran serabut
yang kuat (Imelda, 2007).
Pada
penelitian ini eksplan yang tumbuh semuanya menghasilkan jumlah akar yang
berbeda, akar yang terbentuk berwarna putih dengan bulu-bulu akar halus pada
sisi akar. Jumlah akar yang paling banyak terlihat pada perlakuan A1B3 (0,1 ppm
NAA + 0,5 ppm BA ). Hasil reratanya dapat dilihat pada tabel 3.
Gambar 4. Jumlah Akar pada Setiap Perlakuan: (a).
A1B1, (b). A1B2, (c). A1B3.
Tabel 4. Rerata Jumlah Akar Eksplan Embrio Jagung Manis
pada Berbagai Konsentrasi BA dan NAA Secara Kultur Jaringan.
|
Perlakuan
|
Rerata
jumlah Akar
(buah)
|
|
A1B1 (0,1 ppm NAA + 0,1 ppm
BA)
A1B2 (0,1 ppm NAA + 0,5 ppm BA)
A1B3 (0,1 ppm NAA + 1 ppm BA)
|
5
6,75
4,75
|
Tabel 4 menunjukkan pembentukan akar
pada kultur jaringan dipengaruhi oleh
konsentrasi NAA dan BA yang berbeda. Terlihat planlet pada perlakuan A1B3 yang
memiliki jumlah akar yang paling sedikit diantara perlakuan yang lain yaitu 4,75
buah. Rahmaniar (2007)
menyatakan bahwa auksin aktif yang digunakan untuk pembentukan akar adalah
Naphthalene Acetic Acid (NAA) dan Indol Butericacid (IBA). Kedua jenis tersebut
membentuk akar jika digunakan pada konsentrasi rendah. Sehingga diduga pemberian BA dengan konsentrasi yang lebih
tinggi dari NAA dapat menghambat pembentukan akar. Zulkarnain (2009) menambahkan
pemberian NAA dan BA pada konsentrasi rendah yang sama dapat memacu untuk
pembentukan kalus pada eksplan tertentu. Pada Tabel 3 dapat dilihat pada perlakuan
A1B1 jumlah akar 5 buah peningkatan jumlah akar yang terjadi diduga sel-sel
dalam eksplan memikiki kemampuan untuk memproduksi auksin sendiri sehingga
mampu mendorong proses metabolisme sel termasuk proses pembentukan akar. Sedangkan
perlakuan A1B2 pada Tabel 3 menghasilkan jumlah akar yang lebih banyak di
bandingkan perlakuan yang lain. Diduga penambahan BA 0,5 ppm mampu mengimbangi
zat tumbuh endogen (auksin endogen) yang tersedia dalam eksplan pada perlakuan
tersebut sudah cukup tersedia, sehingga NAA dan BA pada media tersebut sesuai
untuk pembentukan akar pada eksplan dengan baik. Roseliza (1995) menyatakan bahwa
pada umumnya perbandingan yang relatif tinggi antara auksin dan sitokinin
mempengaruhi pembentukan akar.
Dari analisis sidik ragam pada lampiran 7,
dapat dilihat bahwa perlakuan pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA dari
semua perlakuan dan berbagai konsentrasi menunjukan pengaruh tidak berbedanyata
terhadap jumlah akar.
Analisis
pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA dari berbagai konsentrasi
yang diberikan terhadap jumlah akar di peroleh grapik seperti terlihat pada
gambar dibawah ini.
Gambar 5. Rata-rata Jumlah Akar pada Berbagai Konsentrasi ZPT NAA dan
BA.
4. Panjang Akar
Dari
analisis sidik ragam pada lampiran 9, dapat dilihat bahwa perlakuan pemberian zat
pengatur tumbuh NAA dan BA dari semua perlakuan dan berbagai konsentrasi
menunjukan pengaruh sangat nyata terhadap panjang akar. Terlihat rata- rata panjang akar tertinggi terdapat pada perlakuan A1B2 (0,1 ppm NAA +
0,5 ppm BA) yaitu 24,25 cm. Rata-rata panjang akar terendah terdapat pada
perlakuan A1B1 (0,1 ppm NAA + 0,1 ppm BA) yaitu 15 cm, sedangkan perlakuan A1B3 (0,1 ppm NAA + 1 ppm BA) memiliki panjang
akar 18,5 cm.
Gambar 6. Panjang Akar pada Setiap Perlakuan: (a).
A1B1, (b). A1B2, (c). A1B3.
Tabel 5. Rerata Panjang Akar Eksplan Embrio Jagung
Manis pada Berbagai Konsentrasi BA dan NAA Secara Kultur Jaringan
|
Perlakuan
|
Rerata
panjang Akar
(cm)
|
|
A1B1 (0,1 ppm NAA + 0,1 ppm BA)
A1B2 (0,1 ppm NAA + 0,5 ppm BA)
A1B3 (0,1 ppm NAA + 1 ppm BA)
|
15
24,25
18,5
|
Menurut Wetherel (1976)
agar terjadi pembentukkan akar, komposisi media harus diubah. Sitokinin harus
dikurangi atau dihilangkan sedangkan auksin penting sebagai inisitor
pertumbuhan akar. Terlihat pada perlakuan A1B2 yang memiliki panjang akar
terpanjang, diduga kombinasi NAA dan BA pada media tersebut sesuai untuk
pertumbuhan akar pada eksplan embrio jagung manis. Diduga pada embrio terdapat
zat tumbuh endogen sehingga penambahan NAA pada perlakuan A1B2 dapat
mengimbangi BA yang ada pada media yang menyebabkan media sesuai untuk
pertumbuhan akar. Sedangkan perlakuan A1B1 dan A1B3 adanya kombinasi Zat tumbuh
endogen serta adanya zat tumbuh eksogen (ZPT yang diberikan) pada media diduga
tidak seimbang sehingga menyebabkan pertumbuhan akar terhambat dan terhenti
untuk pemanjangan akar.
Pembentukan akar pada kultur jaringan hanya memerlukan auksin tanpa atau
hanya sedikit sitokinin, untuk menginduksi pengakaran pada media kultur
jaringan, auksin sangat dibutuhkan Wattimena (1988).
Analisis
pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh NAA dan BA dari berbagai konsentrasi
yang diberikan terhadap panjang akar di peroleh grapik seperti terlihat pada
gambar dibawah ini.
Gambar 7. Rata-rata Panjang Akar pada Berbagai Konsentrasi
ZPT NAA dan BA.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Pemberian NAA dan BA pada
semua perlakuan dapat menghasilkan pertumbuhan eksplan embrio jagung manis
dengan baik (100%).
2. Kombinasi NAA 0,1 ppm dan BA 0,5 ppm paling optimal untuk pembentukan panjang akar embrio jagung manis secara kultur jaringan.
3. Untuk persentase eksplan tumbuh, jumlah daun dan
jumlah akar semua konsentari NAA dan BA yang diberikan pada penelitian ini
menunjukkan tidak berbeda nyata.
B. Saran
Saran yang
dapat diberikan adalah perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai jenis dan
konsentrasi zat pengatur tumbuh yang sesuai untuk pertumbuhan eksplan embrio jagung manis yang baik
dan bebas dari penyakit.
DAFTAR PUSTAKA
Belfield,
Stephanie & Brown, Christine. 2008. Field Crop Manual: Maize (A Guide to Upland Production in Cambodia).
Canberra.
Diniarti dan S. Najiarti. 1990.
Pemanfaatan Lahan Tidur Untuk Tanaman Pnagan. Penebar Swadaya. Jakarta.
George, E.F. dan P.D. Sherrington.
1984. Plant Propogation by Tissue Culture. Exegetics Limited. England.
Gunawan, L. W., 1987. Teknik Kultur Jaringan. Pusat Antar
Universitas Institut Pertanian Bogor: Bogor.
, L, W., 1995. Teknik Kultur In Vitro Dalam
Hortikultura. Penebar Swadaya: Jakarta.
Hanifah, N. 2007. Pengaruh Konsentrasi NAA dan BAP terhadap Pertumbuhan Eksplan Jarak
Pagar (Jatropha curcas L.)
secara In Vitro. Skripsi Fakultas Pertanian UNS. Surakarta.
Hendaryono,
D. P. S. dan A. Wijayani. 1994. Teknik
Kultur Jaringan Pengenalan dan Petunjuk Perbanyakan Tanaman secara
Vegetatif-Modern. Yogyakarta: Kanisius.
Hughes, K.W. 1982. Ornamental Species in Cloning
Agricultural Plant Via Invitro Techniques. Conger B.V CRC Boca Raton, Florida.
Imelda, M.,
A.Wulansari, Y.S. Poerba. 2007. Mikropropagasi tanaman ilesiles (Amorphophallus
muelleri Blume). Berita
Biologi 8 (4): 271-277.
Kartasapoetra, A. G. 1988.
Teknologi Budidaya Tanaman Di Daerah Tropik. Aksara.Jakarta.
Koswara, J. 1986. Budidaya Jagung
Manis (Zea mayssacharata Sturt L.),
Bahan Kursus Budidaya Jagung Manis dan Jagung Merang. Institit Pertanian Bogor.
Bogor.
Kyte, L. 1983. Plant From Test
Tubes : An Introductions to Micropogations. Porlan, Oregon: Timeber Press.
Malti, Ghosh, Kaushik, Ramasamy, Rajkumar,
Vidyasagar. 2011. Comparative Anatomy of Maize and its Application.Intrnational Journal of Bio-resorces and
Stress Management,2(3):250-256
Murashige, T. & F.
Skoog (1962). A Revised Medium for Rapid Growth and Bioassay with Tobacco Tissue
Culture. Physiol. Plant., 15, 473 – 497.
Pierik, R. L. M. 1971. Plant Tissue
Culture as Motivation for The Symposium dalam J.v. Brag et al [eds]. Effect of
Sterilisation on Componen in Nutrien
Media. Wageningen: Veneman and Zonen.
, R. L. M., 1987. In Vitro Culture of Hinger Plant. Martinus Nijhoft Publisher.
Netherlands.
Purwanto, A. 2008. Kajian Macam Eksplan dan Konsentrasi IBA Terhadap Multiplikasi Tanaman
Manggis (Garcinia mangostana L.) Secara In Vitro. Skripsi Fakultas
Pertanian Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Purwono, M. S dan S. P. Hratono.
2005. Bertanam Jagung Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.
Roseliza,
D. 1995.Kultur padi (Oryza sativa.L)
Randah Kuning pada Medium MS dengan Penambahan 2.4.D, Kinetin, NAA dan BA .
Skripsi. UNAND
Sano, H. 2001. Proyek Kelapa Sawit Sebuah Kerjasama
Internasional dalam Manipulasi Genetik Kelapa Sawit untuk Abad Baru
(Diterjemahkan oleh Dedy HB Wicaksono), Tokyo.
Smith, E.F.1992. The Preparations of Micropropagated
Plantlets for Transplantations. British Society for Plnt Growth Regulation
Newslatter 1.
Suprapto, H. S. 2002 Bertanam
Jagung. Penebar Swadaya. Jakarta.
Street, H.E. 1973. Plant Tissue and Cell Cultures. Oxford,
London: Blackwell Scientific
Publications.
Tjirosoepomo, G.
1993. Taksonomi Tumbuhan Spermatophyta. Gajah Mada University Press.Yogyakarta.
Wetherell, D. F., 1982. Pengantar Propagasi Tanaman secara In Vitro.
Terjemahan : Koensumardiyah. Avery Publishing Group Inc., Wayne, New
Jersey.
Wittimena, G.A. 1988. Zat Pengatur
Tumbuh Tanaman. PAU Bioteknologi. IPB. Bogor.
Widyawati, G. 2010. Pengaruh Variasi Konsentrasi NAA dan BAP
terhadap Induksi dan Pertumbuhan Kalus Jarak Pagar (Jatropha curcas L.).
Tesis Program Pasca Sarjana UNS. Surakarta.
Yusnita, 2003. Kultur Jaringan.
Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien. Agromedia Pustaka: Jakarta.
Yuwono, T. 2008. Bioteknologi Pertanian. Gadjah Mada University
Press: Yogyakarta.
Zulkarnain. 2009. Kultur Jaringan Tanaman. Solusi Perbanyakan
Tanaman Budi Daya. Bumi Aksara. Jakarta.
Lampiran 1 : Komposisi Medium Murashige
dan Skoog (MS) (1962)
|
Stok
|
Senyawa
|
Per liter stok
|
Pemakaian
|
|
|
Stok
|
Perliter medium
|
|||
|
A
B
C
D
E
F
|
NH4NO3
KNO3
KH2PO4
H3BO3
KI
Na2MoO4 . 2H2O
CoCl2 . 6H2O
CaCl2 . 2H2O
MgSO4 . 7H2O
MnSO4 . 4H2O
ZnSO4 . 4H2O
CuSO4 . 5H2O
Na2 EDTA
Fe SO4 . 7H2O
|
82,500 g
95,000 g
34,000 g
1,240 g
0,166 g
0.050 g
0,005 g
88,000 g
74,000 g
4,460 g
1,720 g
0,005 g
7,460 g
5,560 g
|
20,00 ml
20,00 ml
5,00 ml
5,00 ml
5,00 ml
5,00 ml
|
1.650,000 mg
1.900,000 mg
170,000 mg
6,200 mg
0,830 mg
0,250 mg
0,025 mg
440,000 mg
370,000 mg
22,300 mg
8,600 mg
0,025 mg
37,300 mg
27,800 mg
|
|
Myo-inositol
Glisin
Niasin
Pridoksin-HCl
Tiamin-HCl
|
10,000 g
0,200 g
0,050 g
0,050 g
0,010 g
|
10,00 ml
|
100,000 mg
2,000 mg
0,500 mg
0,500 mg
0,100 mg
|
|
|
Sukrosa
Agar
|
|
|
30.000,000 mg
7.000,000 mg
|
|
Lampiran 2. Bagan Plot Percobaan.
|
II
A1B1
|
|
I
A1B2
|
|
III
A1B3
|
|
|
|
|||
|
A1B1
|
|
A1B2
|
|
A1B3
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
A1B1
|
|
A1B2
|
|
A1B3
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
A1B1
|
|
A1B2
|
|
A1B3
|
|
|
|
|||
|
|
|
|
|
|
|
A1B1
|
|
A1B2
|
|
A1B3
|
Lampiran 3 : Jadwal Kegiatan Penelitian
|
No
|
Kegiatan
|
September
|
Oktober
|
November
|
|||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
1
|
Persiapan
|
X
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Sterilisasi Alat
|
X
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Pembuatan larutan Stok Media
dan larutan Stok ZPT
|
|
X
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Pembuatan Media
|
|
|
X
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Sterilisasi Media
|
|
|
X
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Penanaman Eksplan
|
|
|
|
X
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Pengamatan :
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
a.
Persentase Eksplan Yang Hidup
|
|
|
|
|
|
|
X
|
|
|
|
|
|
|
|
b.
Jumlah Daun
|
|
|
|
|
|
|
X
|
|
|
|
|
|
|
|
c.
Jumlah Akar
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
d.
Panjang Akar
|
|
|
|
|
|
|
X
|
|
|
|
|
|
|
Lampiran 4 : Persentase Eksplan Hidup
|
perlakuan
|
Ulangan
|
|
total
|
rata
- rata
|
||
|
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
|
|
|
A1B1
|
Hidup
|
Hidup
|
Hidup
|
Hidup
|
100 %
|
100 %
|
|
A1B2
|
Hidup
|
Hidup
|
Hidup
|
Hidup
|
100 %
|
100 %
|
|
A1B3
|
Hidup
|
Hidup
|
Hidup
|
Hidup
|
100 %
|
100 %
|
|
Total
|
100 %
|
100 %
|
100 %
|
100 %
|
100 %
|
|
|
Rataan
|
100 %
|
100 %
|
100 %
|
100 %
|
|
100 %
|
Lampiran 5 : Jumlah Daun
|
perlakuan
|
Ulangan
|
|
total
|
rata
- rata
|
||
|
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
|
|
|
A1B1
|
3
|
3
|
4
|
0
|
10
|
2,5
|
|
A1B2
|
3
|
3
|
3
|
3
|
12
|
3
|
|
A1B3
|
3
|
3
|
4
|
4
|
14
|
3,5
|
|
Total
|
9
|
9
|
11
|
7
|
36
|
|
|
Rataan
|
3
|
3
|
3,6
|
2,4
|
|
3
|
Lampiran
6 : Daftar Analis Sidik Ragam Jumlah
Daun
|
SK
|
db
|
JK
|
KT
|
F-hitung
|
5%
|
1%
|
|
Total
|
2
|
12
|
|
|
|
|
|
Perlakuan
|
11
|
2
|
1
|
0,84 tn
|
3,98
|
7,20
|
|
Galat
|
9
|
10
|
1,2
|
|
|
|
Keterangan : KK = 36,5 %
: tn =
Tidak nyata
Lampiran 7 : Jumlah
Akar
|
perlakuan
|
Ulangan
|
|
total
|
rata
- rata
|
||
|
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
|
|
|
A1B1
|
6
|
7
|
7
|
0
|
20
|
5
|
|
A1B2
|
6
|
6
|
9
|
6
|
27
|
6,75
|
|
A1B3
|
5
|
5
|
5
|
4
|
19
|
4,75
|
|
Total
|
17
|
18
|
21
|
10
|
66
|
|
|
Rataan
|
5,6
|
6
|
7
|
3,4
|
|
5,5
|
Lampiran
8 : Daftar Analis Sidik Ragam Jumlah
Akar
|
SK
Total
|
db
2
|
JK
51
|
KT
|
F-hitung
|
5%
|
1%
|
|
Perlakuan
|
11
|
9,5
|
4,75
|
1,03 tn
|
3,98
|
7,20
|
|
Galat
|
9
|
41,5
|
4,61
|
|
|
|
Keterangan : KK = 39,03 %
: tn =
Tidak nyata
Lampiran 9 : Panjang Akar
|
perlakuan
|
Ulangan
|
|
total
|
rata
- rata
|
||
|
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
|
|
|
A1B1
|
17
|
26
|
17
|
0
|
60
|
15
|
|
A1B2
|
23
|
35
|
20
|
19
|
97
|
24,25
|
|
A1B3
|
16
|
19
|
19
|
20
|
74
|
18,5
|
|
Total
|
56
|
80
|
56
|
39
|
231
|
|
|
Rataan
|
18,6
|
26,7
|
18,7
|
13
|
|
19,25
|
Lampiran
10 : Daftar Analis Sidik Ragam Panjang
Akar
|
SK
|
db
|
JK
|
KT
|
F-hitung
|
5%
|
1%
|
|
Total
|
2
|
700,25
|
|
|
|
|
|
Perlakuan
|
11
|
174,5
|
87,25
|
28,84 **
|
3,98
|
7,20
|
|
Galat
|
9
|
525,75
|
58,41
|
|
|
|
Keterangan : KK = 39,7 %
: ** =
Berbeda sangat nyata
Tidak ada komentar:
Posting Komentar